18April2014

You are here: Home HITheory Realisme Sumber-Sumber Konflik dalam Hubungan Antar Negara
 

Bangkok Diserbu Demonstran

Bentrok pecah di Bangkok, Thailand, Senin, 2 Desember 2013, melibatkan pasukan keamanan dengan demonstran yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Kerusuhan ini menyebabkan setidaknya tiga orang tewas dan 103 lainnya cedera.

Langganan Artikel

Masukkan Email Anda:

Mari Berkontribusi

Mari berbagi berita dan tulisan. Kami menyediakan ruang sebesar-besarnya kepada Anda untuk turut serta menyumbangkan ide dan tulisan. Caranya sangat mudah. Simak petunjuknya disini.
 

Komunitas HI Indonesia

HIneter, bergabung di HI Community -- Komunitas HI Indonesia. Bertemu kawan baru, bertukar ide, mendiskusikan isu-isu HI, dan banyak lagi. Ayo bergabung dan jelajahi dunia baru tanpa barikade sekarang juga!

Punya Agenda Kegiatan?

Menjelajahi interaksi. Kumpulan kegiatan, pertemuan mahasiswa, seminar, dan agenda-agenda penting yang berkaitan dengan dunia Hubungan Internasional. Ayo singgah.

Sumber-Sumber Konflik dalam Hubungan Antar Negara

Sumber dari konflik terletak pada hubungan antara sistem negara-negara kebangsaan itu sendiri yang dilandasi oleh konsep egosentris (kepentingan sendiri), yaitu aspirasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan kedudukan negara dalam hubungannya dengan negara lain. Sifat dan hakiki dari kepentingan dan sasaran-sasaran yang tercakup dalam kebijakan nasional dari negara-negara mempunyai kecenderungan menimbulkan konflik.

 

 

Secara garis besar, yang menjadi sasaran konflik dibagi menjadi dua kategori yaitu konflik dengan sasaran keseimbangan (balancing objectif conflict) dan konflik dengan sasaran hegemoni (hegemonic objectif conflict). Konflik dengan sasaran keseimbangan bertujuan untuk mencapai keadaan seimbang pada suatu masalah yang dipertentangkan sedangkan konflik untuk hegemoni bertujuan untuk dominasi.  Dan untuk mencapai kedua sasaran tersebut penggunaan unsur kekuaan bersenjata tidak dapat dikesampingkan.

 

Menelusuri suatu konflik yang ada dalam hubungan internasional merupakan suatu kajian yang sangat panjang dengan batasan yang tak terhingga. Hal ini disebabkan akan terulangnya kembali perspektif sejarah yang telah dilalui umat manusia secara menyeluruh. Seperti diketahui sebelum perang dunia, konflik yang melanda dunia lebih banyak didasari oleh adanya perbedaan agama. Seperti terungkap dengan adanya perang salib yang memakan waktu kurang lebih satu abad lamanya. Perang yang lama ini telah membuat kerajaan-kerajaan dimasa lalu berlaga di arena internasional.

 

Setelah selesainya perang salib yang dilandasai oleh perbedaan agama, arah kecenderungan bangsa-bangsa yang ada di dunia perlahan-lahan berubah. Mereka mulai menentukan hakekat bangsanya sendiri sebagai bangsa yang mandiri dan  lepas dari ketergantungan pihak lain. Dari keinginan sebagai bangsa yang mandiri kemudian berkembang menjadi keinginan untuk menguasai bangsa lain dan memperluas wilayah kekuasaan. Maka timbullah konflik-konflik baru antara negara bangsa dengan sasaran hegemoni.

 

Situasi seperti itu terus berlanjut dan berkembang dalam waktu yang lama terutama di daratan Eropa. Bahkan negara-negara Eropa kemudian berlomba-lomba mendapatkan daerah jajahan (koloni) di  berbagai belahan dunia.. Rasa kebangsaan sebagai bangsa yang lebih unggul dari bangsa lain membuat konflik-konflik bersenjata tak terhindarkan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Puncaknya adalah timbulnya Perang Dunia I (1914-1918).

 

Perang Dunia I kemudian berakhir dan terbentuklah Liga Bangsa-Bangsa (LBB) sebagai lembaga tingkat internasional tempat bergabungnya negara-negara untuk membicarakan dan menyelesaikan persoalan antar bangsa. Tetapi lembaga itupun tidak bertahan lama, karena kepentingan nasional dari negara-negara tersebut tidak dapat dipadukan melalui pola interaksi musyawarah pada lembaga itu. Akibat yang paling fatal ialah pecahnya Perang Dunia II ( 1939-1945). Akhir dari PD II ini telah melahirkan suatu kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut terdiri dari dua hal : pertama, ialah membagai beberapa kawasan yang tadinya dianggap sebagai negara utama yang menyalakan api perang. Kedua, ialah tercapainya kesepakatan dari para pemenang perang untuk membentuk lembaga baru yang merupakan forum penyelesaian masalah-masalah konflik dalam rangka hubungan internasional. Forum itu itu dinamakan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).  

 

Dengan berakhirnya PD II, maka konflik internasional kemudian memasuki babak baru. Sumber konflik mulai dari perbedaan agama, ras dan sasaran hegemoni kemudian berkembang lagi ke pertentangan ideologi. Konflik yang berlangsung selama kurang lebih tiga dekade itu, dikenal dengan Perang Dingin (Cold War). Pertentangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet telah memetakan sistem internasional menjadi dua kutub kekuatan, Blok Timur dan Blok Barat. Perkembangan persenjataan ke era nuklir menjadikan pertentangan tersebut semakin membahayakan perdamaian dunia. Kekhawatiran akan kerusakan yang ditimbulkan oleh penggunaan senjata nuklir menghantui umat manusia. Ancam-mengancam, perlombaan senjata dan pembentukan pakta-pakta pertahanan merupakan fenomena menarik dalam Perang Dingin.

 

Perbedaan ideologi yang mengawali persaingan antarnegara, pada dekade berikutnya telah melahirkan persaingan dalam bidang lain, seperti teknologi, ekonomi dan sebagainya.  Konflik dimasa mendatang akan terfokus pada masalah hakekat kehidupan manusia. Adanya kepentingan yang sama dari umat manusia ditambah dengan semakin luasnya jaringan komunikasi, membuat dunia terasa makin sempit membuat persaingan semakin meruncing pada kepentingan yang relatif sama. Hal tersebut juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi yang kemudian menjadi kekuatan baru sebuah negara.

 

Negara-negara bangsa masing-masing mulai  memperkuat kekuatan ekonominya dan berdampak timbulnya kesenjangan yang bisa menimbulkan perasan iri yang bermuara pada pertentangan. Di sisi lain sumber daya alam dan lingkungan hidup juga bisa menjadi potensi konflik yang sangat besar. Pemanfaatan sumber daya alam sangat vital dalam pengembangan ekonomi suatu negara juga berdampak pada kerusakan lingkungan hidup. Hal itu membuat setiap negara berusaha untuk mempertahankannya dari ancaman negara lain.

 

Beberapa pemikir hubungan internasional mengkalsifikasikan sumber-sumber konflik ke dalam beberapa bagian. Salah satunya adalah Holsti, hasil studinya dalam buku Internasional Politics ; Frame for Analysis menyebutkan tujuh klasisifikasi konflik internasional, yaitu 1) konflik wilayah terbatas, 2) konflik berkaitan dengan komposisi pemerintah, 3)  konflik yang disebabkan suatu negara berusaha mempertahankan hak teritorial atau hak istimewa untuk melindungi kepentingan keamanan dan kelangsungan hidup negara. 4) konflik kehormatan nasional (prestise), 5) imprealisme regional, 6) konflik pembebasan , 7) konflik unifikasi nasional.  Holsti mengambil sampel penelitian semua perang yang terjadi di berbagai wilayah selama kurun waktu pasca PD I sampai dasawarsa 80-an.

 

Pemikir lain yaitu Walter. S. Jones bahkan mengkalasifikasikan lebih banyak lagi teori mengenai sumber-sumber konflik yaitu : 1) ketimpangan keuasaan, 2) transisi kekuasaan, 3) nasionalisme, separatisme dan iredentisme, 4) darwinisme sosial internasional, 5) kegagalan komunikasi akibat kekeliruan persepsi dan dilema keamanan, 6) kegagalan komunikasi akibat ironi atau kesalahan teknis, 7) perlombaan senjata, 8) kekompakan internal melalui konflik eksternal, 9) konflik internasional akibat perselisihan internal, 10) kerugian relatif, 11) naluri agresi, 12) rangsangan ekonomi dan ilmiah, 13) kompleks industri militer, 14) pembatasan penduduk, 15) penyelesaian konflik melalui kekerasan.  

 

Klasifikasi tersebut didasarkan dari hasil penelitian ilmiah mengenai perang dengan asunsi pokok bahwa pola baku dan keteraturan dalam tingkah laku konflik dapat diidentifikasikan secara   sistematis. Dari hasil tersebut perang dapat didefenisikan sebagai pelaksanaan terorganisir atas perselisihan bersenjata antarkelompok sosial dan antarnegara.  

 

Beragam klasifikasi yang diberikan para pengkaji hubungan internasional membukitkan bahwa masalah konflik bukanlah sesuatu yang sederhana. Berbagai segi yang kompleks mesti diperhatikan sebelum data-data temuan digeneralisasikan ke dalam kategori tertentu. Para ahli atau orang-orang yang mengkaji konflik akan menemukan adanya berbagai aspek yang saling berhubungan dalam sebuah konflik sebab tidak ada konflik yang berkembang dengan penyebab tunggal.

 

Tetapi yang pasti klasifikasi sumber-sumber konflik umumnya dilakukan para ahli berdasarkan kepentingan yang diperjuangkan oleh para pelaku konflik. Negara-negara di kawasan Amerika Selatan juga tak luput dari persoalan konflik yang didasari oleh berbagai kepentingan. Umumnya konflik yang terjadi di kawasan tersebut adalah bermula dari masalah konvensional yaitu sengketa teritorial yang kemudian berkembang dan mempengaruhi aspek-aspek yang lain.

 

Negara-negara dikawasan Amerika Selatan telah mengalami penjajahan yang lama dan mereka memperoleh kemerdekannya melalui perjuangan bersenjata. Setelah masa kemerdekaan, negara-negara tersebut masih berjuang untuk mempertahankan kesatuan dan identitas teritorial. Permasalahan utama yang muncul kemudian pada masa setelah kemerdekaan adalah sengketa teritorial dan separatisme.  Sengketa teritorial menjadi hal yang umum karena tidak ada kejelasan batas-batas wilayah peninggalan masa penjajahan. Masing-masing negara mengklaim batas-batas wilayahnya sendiri selama dianggap menguntungan mereka. Hal itu kemudian yang menyebabkan persinggungan kepentingan antara beberapa negara yang berkembang menjadi konflik. Salah satu contohnya adalah Peperangan Pasifik berawal dari perebutan wilayah padang pasir Atacama oleh Bolivia dan Chili. Konflik tersebut kemudian berkembang dan melibatkan negara lain seperti Peru serta dampaknya berimbas pada negara lain di kawasan tersebut. Permasalahan yang muncul pun kemudian bukan hanya terbatas pada masalah teritorial tetapi menyangkut juga masalah lain seperti perekonomian dan sebagainya.

 

Konflik-konflik yang terjadi dalam hubungan internasional bersumber dari sejarah masa lalu dan keinginan untuk maju negara-negara bangsa dalam perpolitikan internasional. Konflik awalnya terjadi karena satu penyebab tetapi pasti akan mempengaruhi aspek lain, sehingga dalam hubungan internasional tidak ada penyebab tunggal terjadinya konflik.***

 

Daftar Bacaan:

Bantarto Bandoro, Agenda dan Penataan Keamanan di Asia Pasifik, Jakarta: CSIS, 1996.

Walter S. Jones, Logika Hubungan Internasional 2 ; Kekuasaan, Ekonomi-Politik Internasional dan Tatanan Dunia, Jakarta: Gramedia. 1993

Charles A Mc Clelland, Ilmu Hubungan Internasional: Teori dan Sistem. Jakarta : CV. Rajawali, 1986

Dahlan Nasution, Politik Internasional: Konsep dan Teori. Jakarta: Penerbit Erlangga 1989

Silahkan menggunakan segala tulisan dan informasi dalam portal ini secara etis dan bertanggung-jawab. Jika ingin mengutip sebagian atau keseluruhan isi portal ini, mohon mencantumkan sumber dan menghubungi admin.