19April2014

You are here: Home HI Theory Liberalisme Teori Perdagangan Internasional
 

Bangkok Diserbu Demonstran

Bentrok pecah di Bangkok, Thailand, Senin, 2 Desember 2013, melibatkan pasukan keamanan dengan demonstran yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Kerusuhan ini menyebabkan setidaknya tiga orang tewas dan 103 lainnya cedera.

Mari Berkontribusi

Mari berbagi berita dan tulisan. Kami menyediakan ruang sebesar-besarnya kepada Anda untuk turut serta menyumbangkan ide dan tulisan. Caranya sangat mudah. Simak petunjuknya disini.
 

Komunitas HI Indonesia

HIneter, bergabung di HI Community -- Komunitas HI Indonesia. Bertemu kawan baru, bertukar ide, mendiskusikan isu-isu HI, dan banyak lagi. Ayo bergabung dan jelajahi dunia baru tanpa barikade sekarang juga!

Punya Agenda Kegiatan?

Menjelajahi interaksi. Kumpulan kegiatan, pertemuan mahasiswa, seminar, dan agenda-agenda penting yang berkaitan dengan dunia Hubungan Internasional. Ayo singgah.

Teori Perdagangan Internasional

Paradigma dan teori perdagangan internasional terus mengalami perubahan dan inovasi seiring dengan makin majunya sektor teknologi dan komunikasi. Perubahan tersebut merupakan kesadaran kritis yang dikemukakan oleh para ekonom dalam melihat relevansi teori terhadap penerapannya. Namun demikian, paradigma kapitalisme yang mengusung penciptaan liberalisme perdagangan tetap menjadi mainstreim dalam melihat fenomena perdagangan internasional yang berkembang dewasa ini.

Hal ini dapat dilihat dari teori-teori yang terkemuka dalam menjelaskan urgensi perdagangan internasional seperti Adam Smith, David Ricardo hingga Michael Porter dan para ekonom dewasa ini, yang semuanya merupakan para pendukung liberalisme perdagangan internasional. Disini kita akan membahas dua teori klasik yang hingga kini masih sering dijadikan 'ajaran' bagi para ekonom dan policy maker.


1. Teori Absolute Advantage

Perdagangan internasional pada dasarnya dapat menggantikan perpindahan faktor-faktor produksi. Karenanya sebuah negara yang memiliki sumber daya manusia berlimpah dengan lahan dan modal yang relatif terbatas, akan memperoleh penghidupan yang lebih baik apabila sebagian dari mereka pindah ke negara yang memiliki tenaga kerja yang terbatas, namun modal dan lahan relatif banyak tersedia. Perpindahan tersebut akan mempertinggi upah tenaga kerja. Namun, banyak kendala yang merintangi perpindahan tenaga kerja, misalnya undang-undang keimigrasian, biaya pengangkutan dan masalah-masalah lain, yang menjadikan mahalnya biaya untuk berimigrasi ke luar negeri yang mengakibatkan sulitnya tenaga kerja berimigrasi.

 

Pendapat kaum klasik mengatakan bahwa setiap negara akan medapatkan keuntungan dari perdagangan intenasional, karena melakukan spesialisasi produksi  dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak (absolute advantage) serta mengimpor barang jika negara tersebut tidak memiliki absolute advantage terhadap sebuah barang.  Dengan demikian, masing-masing negara akan memperoleh keuntungan yang seimbang dengan menikmati produksi yang relatif lebih baik bila dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh produksi domestik.   

 

Teori Absolute Advantage ini, pada dasarnya lebih menekankan pada besaran variable riil bukan moneter, sehingga sering dikakatakan sebagai teori murni perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti nilai sebuah barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan, akan semakin tinggi nilai barang tersebut, teori ini disebut sebagai labor theory of value. Pola ekonomi dimana suatu negara atau perusahaan menggunakan lebih sedikit sumber daya perunit produksi dibandingkan pesaingnya. 

 

Teori tenaga kerja sifatnya sangat sederhana, sebab menggunakan anggapan bahwa tenaga kerja itu sifatnya homogen serta merupakan satu-satunya faktor produksi. Dalam kenyataannya bahwa tenaga kerja itu tidak homogen, faktor produksi tidak hanya satu serta mobilitas tenaga kerja tidak selalu bebas. Namun teori ini memiliki dua manfaat : pertama, memungkinkan bagi kita dengan sederhana menjelaskan tentang spesialisasi dan keuntungan dari pertukaran. Kedua, meskipun pada teori-teori berikutnya kita tidak menggunakan teori  nilai tenaga kerja namun prinsip teori ini tetap tidak bisa ditinggalkan. 

 

Menurut Adam Smith, kedua negara akan memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi dan kemudian melakukan transkasi perdagangan. Pertukaran akan membawa keuntungan kedua belah pihak. Kedua negara akan memperoleh keuntungan apabila nilai tukar yang terjadi terletak diantara nilai tukar masing-masing negara sebelum terjadi pertukaran. Perdagangan internasional akan terjadi dan menguntungkan kedua negara bila masing-masing negara memiliki absolute advantage yang berbeda. Dengan demikian, bila hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolut untuk kedua jenis produk, maka tidak akan terjadi perdagangan yang menguntungkan. Hal ini merupakan kelemahan teori absolute advantage Adam Smith. Namun kelemahan teori Adam Smith  ini, disempurnakan oleh David Ricardo dengan teori comparative advantage atau keunggulan komparatif.

 
2.  Teori Comparative Advantage

Teori keunggulan komparatif (Comparative advantage) adalah Teori ekonomi  yang bermakna bahwa meskipun suatu negara atau perekonomian dapat menghasilkan berbagai macam barang dan jasa dalam produksi domestiknya, namun lebih baik apabila lebih mengkonsentrasikan pada area produksi dimana lebih menelan biaya yang efesien  dibandingkan perekonomian pesaingnya.  Dalam teori ini juga menyatakan, bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage dan mengimpor barang yang memiliki comparative advantage juga, yaitu suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang bila dihasilkan sendiri memakan biaya produksi yang besar.
 
Teori comparative advantage merupakan modifikasi yang dilakukan oleh David Ricardo terhadap teori absolute advantage Adam Smith yang didasarkan pada nilai tenaga kerja., yang menyatakan produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya. Menurut teori cost comparative advantage (labor effeciency), suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional  jika melakukan spesialisasi  produksi dan mengekspor barang di mana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih efesien serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif kurang dan tidak efesien. 
 
Selagi terdapat perbedaan biaya untuk memproduksi barang di antara berbagai negara, maka terdapat kemungkinan bagi sebuah negara untuk memperoleh keunggulan komparatif dalam produksi. Karenanya, dalam situasi demikian, negara dapat mengembangkan efesiensi komparatif dengan memusatkan sumber daya untuk produk yang mempunyai keunggulan komparatif bila dibanding dengan produk yang tidak mempunyai keunggulan komparatif. Untuk itu lah negara lain akan memproduksi barang yang mengandung keunggulan komparatif negara tertentu.
 
Pendapat di atas  dapat dibenarkan, apabila negara itu mempunyai keunggulan mutlak dalam memproduksi berbagai barang. Karena itu,  negara dapat memproduksi satu barang  dengan  memperoleh keuntungan,  jika negara tersebut mendayagunakan semua sumber daya produktifnya untuk memproduksi barang tertentu. Negara lain kemudian memproduksi barang yang tidak mempunyai keunggulan komparatif terkecil. Dengan spesialisasi demikian, kedua negara itu dapat memperdagangkan kelebihan produksi mereka dan dapat memperoleh barang lebih banyak dari pada mereka memproduksi barang-barang itu sendiri dengan mengerahkan sumber daya mereka untuk memproduksi kedua barang tersebut. 
 
Suatu perkembangan intelektual penting lainnya adalah yang mengurangi nilai teori konvensional perdagangan internasional adalah pergeseran dari teori komparatif menjadi apa yang disebut sebagai keunggulan kompetitif. Perdagangan sering kali disebabkan oleh perubahan spesialisasi, peristiwa sejarah dan perkembangan teknologi. Pemikiran baru ini berdasarkan pada argumen perubahan teknologi yang semakin memiliki arti penting dalam menentukan pola-pola perdagangan. Dan penting pula untuk disadari bahwa teknologi yang mendasari keuntungan kompetitif dan menentukan pola-pola perdagangan seringkali sengaja diciptakan lewat kebijakan perusahaan dan pemerintah.
 
 
 
Daftar Bacaan:
 
Jeffrey Edmund Curry, MemahamiEkonomi Internasional,MemahamiDinamika Pasar Global, Jakarta : Penerbit PPM, 2001
 
 
Hady Hamdy,  Ekonomi  Internasional, Teori  dan  Kebijakan Perdagangan Internasional, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1999
 
Nopirin Ph.D, Ekonomi Internasional,Yogyakarta : BPFE, 1997
 

 

Silahkan menggunakan segala tulisan dan informasi dalam portal ini secara etis dan bertanggung-jawab. Jika ingin mengutip sebagian atau keseluruhan isi portal ini, mohon mencantumkan sumber dan menghubungi admin.